Orang miskin punya utang, kelas menengah menabung, orang kaya punya utang?

Orang miskin terjerat pinjol, kelas menengah rajin menabung dan menjauhi utang, sementara orang kaya justru sengaja berutang. Kalau utang memang buruk, kenapa orang yang uangnya paling banyak malah memilih berutang?

Read this in English

Singkatnya: baik atau buruknya sebuah utang tidak ditentukan oleh labelnya, produktif atau konsumtif, melainkan oleh hitungan. Utang itu baik kalau biayanya lebih rendah daripada imbal hasil yang bisa didapat uangmu secara aman selama uang itu masih kamu pegang, dan aturan ini berlaku bahkan untuk cicilan HP. Untuk HP seharga Rp20 juta, cicilan 0% selama 12 bulan unggul sekitar Rp546 ribu dibandingkan bayar tunai kalau uangnya disimpan di deposito berbunga 5%, sedangkan cicilan “0%” yang dibebani biaya 3% justru kalah.

Kalau utang itu buruk, kenapa orang kaya sengaja berutang?

Coba bayangkan tiga orang. Orang pertama menatap layar ponselnya dengan wajah lesu karena tagihan pinjaman online (pinjol) sebesar Rp10 juta baru saja masuk, padahal gajinya bulan ini sudah habis untuk beras, token listrik dan ongkos ke kantor. Orang kedua tersenyum lebar sambil memeluk celengan ayamnya, karena sejak dulu dia berprinsip lebih baik menabung daripada berutang. Orang ketiga, seorang bapak berbatik, duduk santai di kursi besarnya sambil menyodorkan kartu kredit, dan senyumnya tidak kalah lebar dari senyum orang kedua.

Tiga orang berdampingan: kiri, pemuda di kursi plastik menatap sedih ponsel bertuliskan UTANG Rp10jt; tengah, perempuan berhijab merah muda tersenyum memeluk celengan ayam; kanan, bapak berkacamata dan berbatik duduk di kursi besar merah keemasan sambil menyodorkan kartu kredit emas

Sejak kecil kita diajari bahwa utang itu buruk, dan nasib orang pertama seolah membuktikannya. Banyak orang di Indonesia terjerat pinjol bukan karena gaya hidup, melainkan karena penghasilan mereka memang tidak cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Lain ceritanya dengan orang kedua: penghasilannya cukup, sehingga dia memilih menjauhi utang, atau paling banter mengambil utang yang dianggap “produktif” seperti KPR atau modal usaha. Lalu, kenapa orang ketiga yang uangnya jelas berlebih justru sengaja berutang? Saya sendiri juga punya utang, dan alasannya sederhana: saya ini kelas menengah yang sedang mencoba-coba jadi orang kaya 😂.

Nasib orang pertama memang tidak bisa dianggap enteng, karena pinjol adalah salah satu utang termahal yang legal di negeri ini. OJK membatasi bunga pinjol untuk keperluan konsumtif dengan skema yang turun bertahap mengikuti tenor, dan untuk tenor pendek batasnya masih sampai 0,3% per hari, alias sekitar 9% sebulan.1 Kalau kamu meminjam Rp1 juta selama 30 hari, bunganya saja sudah Rp90 ribu, setara kira-kira 108% setahun. Ketika gaji bulan depan pun tidak cukup untuk melunasinya, orang terpaksa gali lubang tutup lubang dengan pinjaman baru, dan lingkaran inilah yang membuat cerita “utang itu buruk” terasa begitu nyata.

Meski begitu, orang ketiga juga berutang, dan dia sama sekali tidak terlihat cemas. Perbedaan antara orang pertama dan orang ketiga ternyata bukan soal berutang atau tidak, melainkan soal cara memandang utang itu sendiri.

Ada berapa cara memandang utang?

Menurut pengamatan saya, cara orang memandang utang bisa dibagi menjadi tiga level. Makin tinggi levelnya, makin sedikit orang yang setuju, dan level tertinggi memang sengaja saya buat provokatif.

Level 1: utang produktif baik, utang konsumtif buruk

Inilah pandangan yang paling umum, dan hampir semua orang menerimanya tanpa perdebatan. Pinjaman modal usaha dianggap baik karena uangnya diputar untuk menghasilkan uang, begitu pula KPR karena rumahnya bisa naik harga. Sebaliknya, cicilan HP, kartu kredit dan paylater dianggap buruk karena uangnya habis untuk dikonsumsi.

Masalahnya, label “produktif” pun tidak menjamin apa-apa. KPR sekalipun belum tentu baik, karena untung atau ruginya membeli rumah bergantung pada angka-angkanya. Dalam tulisan saya sebelumnya, Sewa atau beli rumah?, hasil hitungannya menunjukkan bahwa membeli rumah lebih untung di Perth, sedangkan di Jakarta yang lebih untung justru menyewa.

Level 2: cicilan 0% juga termasuk utang yang baik

Orang di level ini tetap menganggap utang produktif itu baik, tetapi mereka menambahkan satu jenis utang konsumtif ke daftar yang aman: cicilan tanpa bunga. Cicilan 0% sebenarnya hanya menunda pengeluaran, dan dalam konsep time value of money (nilai waktu uang), uang yang dibayarkan nanti lebih ringan daripada uang yang dibayarkan hari ini. Syaratnya hanya satu: barang itu toh akan kamu beli juga.

Mungkin kamu akan menyanggah: “Cicilan 0% itu kan cuma bikin orang jadi boros?” Bisa jadi, tetapi mobil, barang elektronik dan liburan juga bagian dari kesejahteraan, bukan dosa yang harus ditebus dengan hidup prihatin. Kuncinya ada pada urutan berpikir: orang di level ini sebenarnya sudah punya uang tunai untuk membeli barang itu, dan mereka hanya memilih memecah pembayarannya. Uang yang belum dibayarkan tetap tersimpan di tabungan atau deposito dan terus menghasilkan bunga selama masa cicilan.

Level 3: semua utang itu baik

Di level inilah saya berdiri, dan saya sadar pendapat ini terdengar nekat. Saya tidak peduli apakah sebuah cicilan gratis atau berbunga, dan saya juga tidak peduli apakah utang itu produktif atau konsumtif. Yang saya pedulikan hanya untung-ruginya dalam rupiah setelah time value of money ikut dihitung, karena cicilan berbunga pun bisa lebih untung daripada bayar tunai kalau bunganya lebih rendah daripada imbal hasil uangmu sendiri.

Bagaimana cicilan konsumtif bisa lebih untung daripada bayar tunai?

Ambil contoh HP baru seharga Rp20 juta yang memang akan kamu beli, entah karena HP lama sudah rusak atau karena kamu memerlukannya untuk bekerja. Jelas ini pembelian konsumtif, tetapi pertanyaannya tetap sama: lebih baik bayar tunai atau mencicil? Jawabannya bergantung pada tiga hal, yaitu imbal hasil uang tunaimu kalau tidak dibelanjakan sekarang, bunga dan biaya cicilan, serta skema cicilan itu sendiri (berapa lama tenornya dan kapan biaya dibayar).

Ketiga hal itu bisa dirangkum dalam satu rumus yang menghitung keuntungan bersih dari mencicil, dalam nilai uang hari ini:

\[\text{Keuntungan bersih} = P - \sum_{t=1}^{n} \frac{c_t}{(1+r)^t}\]
  • \(P\) adalah harga tunai barang.
  • \(c_t\) adalah jumlah yang kamu bayar pada bulan ke-\(t\), yaitu cicilan ditambah biaya apa pun yang ditagihkan pada bulan itu.
  • \(r\) adalah imbal hasil uang tunaimu per bulan.
  • \(n\) adalah jumlah cicilan.

Kalau hasilnya positif, mencicil lebih untung, sedangkan kalau negatif, bayar tunai yang lebih untung. Tool Finance vs Cash menghitung hal yang sama, hanya saja semua angka diproyeksikan ke akhir masa cicilan, sehingga hasilnya dinyatakan dalam nilai uang di akhir setiap skema. Dengan asumsi uang tunai disimpan di deposito berbunga 5% setahun, hasilnya seperti ini:

Skema cicilan HP Rp20 juta Cicilan per bulan Bunga efektif setahun (termasuk biaya) Dibandingkan bayar tunai
12 kali, bunga 0% Rp1,67 juta 0% Untung Rp546 ribu
12 kali, bunga 0% ditambah biaya 3% (Rp600 ribu di muka) Rp1,67 juta 5,81% Rugi Rp84 ribu
24 kali, bunga flat 1,5% per bulan Rp1,13 juta 36,4% Rugi Rp6,46 juta

Ada tiga pelajaran dari tabel di atas. Cicilan 0% yang benar-benar tanpa biaya menang, karena uang tunaimu tetap berbunga di deposito selama setahun. Cicilan berlabel “0%” bisa kalah begitu ada biaya di muka, karena biaya Rp600 ribu itu membuat bunga efektifnya naik menjadi 5,81%. Skema dengan cicilan bulanan paling ringan, yaitu Rp1,13 juta, justru yang paling merugikan, karena bunga flat 1,5% per bulan setara dengan 36,4% setahun.

Tentu saja tidak praktis kalau setiap kali belanja kamu harus mengerjakan rumus seperti ini. Saya cukup memakai satu patokan sederhana: bunga efektif cicilan, termasuk semua biayanya, harus lebih rendah daripada imbal hasil yang bisa didapat uang tunaimu secara aman, misalnya di tabungan atau deposito. Coba cocokkan patokan ini dengan tabel tadi: bunga 0% lebih rendah daripada 5% sehingga cicilan pertama menang, bunga efektif 5,81% sedikit di atas 5% sehingga cicilan kedua kalah, sedangkan cicilan ketiga dengan bunga efektif 36,4% tentu kalah telak.

Saham atau reksa dana mungkin saja memberi imbal hasil lebih tinggi, tetapi anggap saja itu bonus, bukan kepastian, jadi tidak perlu ikut dihitung. Untuk tawaran yang lebih rumit, misalnya ada potongan harga kalau bayar tunai, biaya yang dibayar di awal, atau tenor yang berbeda-beda, biarkan tool yang menghitungnya.

Bagaimana menguji tawaran cicilan sungguhan?

Hitung-hitungan di kepala mulai sulit ketika pilihan tawarannya beragam. Misalkan kamu ingin membeli laptop seharga Rp15 juta di sebuah marketplace, dan di halaman pembayaran ada tiga pilihan: cicilan 0% kartu kredit selama 12 bulan tanpa biaya, cicilan 0% dari marketplace selama 12 bulan dengan biaya layanan 2,5% (Rp375 ribu), atau paylater selama 6 bulan dengan bunga flat 2,5% per bulan. Sementara itu, uang tunaimu tersimpan di deposito berbunga 5%.

Di tool Finance vs Cash, kamu cukup memasukkan harga laptop di Cash Purchase Cost, uang tunai yang kamu punya di Available Cash, imbal hasil uang itu di Risk-Free Rate, lalu memasukkan setiap tawaran ke Loan offers persis seperti yang tertulis di toko. Grafik di bawah ini menunjukkan Net Benefit vs Cash setiap tawaran dari bulan ke bulan.

Interactive chart: Finance vs Cash Scenario Explorer by Adjie Brotot Tools

Garis biru menunjukkan cicilan kartu kredit 0%, yang menjadi Best Strategy dengan keuntungan sekitar Rp409 ribu dibandingkan bayar tunai. Garis oranye menunjukkan cicilan 0% dari marketplace, yang dimulai dari minus Rp375 ribu karena biaya layanannya dan baru merangkak ke untung tipis Rp16 ribu di akhir tenor. Hasil itu nyaris seri, karena bunga efektifnya 4,80% setahun, hanya sedikit di bawah bunga deposito 5%. Garis hijau menunjukkan paylater, yang terjun bebas sampai rugi sekitar Rp2,06 juta, karena bunga flat 2,5% per bulan setara dengan 62,8% setahun.

Pelajarannya, dua tawaran yang sama-sama berlabel “0%” belum tentu sama nilainya, dan paylater sebetulnya masih bersaudara dekat dengan pinjol.

Kartu kredit, jenis utang favorit saya

Kalau harus memilih satu jenis utang favorit, saya akan memilih kartu kredit. Bagian ini sengaja saya buat singkat; anggap saja pengantar untuk tulisan lain yang lebih panjang.

Bagi banyak orang, kartu kredit terdengar menakutkan, dan ketakutan itu memang beralasan. Bank Indonesia membatasi bunga kartu kredit paling tinggi 1,75% per bulan sejak 1 Juli 2021,2 atau sekitar 21% setahun, jauh di atas bunga deposito mana pun.

Bunga itu sebenarnya tidak akan pernah kamu bayar asalkan seluruh tagihan dilunasi sebelum tanggal jatuh tempo setiap bulan. Umumnya, kartu kredit di Indonesia memberi masa bebas bunga sekitar 45 sampai 50 hari sejak transaksi. Artinya, setiap kali belanja, kamu mendapat pinjaman gratis selama beberapa minggu, sementara uang tunaimu tetap berbunga di tabungan. Biaya utang seperti ini jelas lebih rendah daripada imbal hasil uang tunai yang disimpan dengan aman, karena bunganya 0%.

Kartu kredit juga memberi “imbal hasil” tambahan dalam bentuk poin. Poin itu bisa ditukar dengan banyak hal, tetapi bagi kebanyakan orang yang saya kenal, penukaran yang paling bernilai adalah miles maskapai untuk kursi kelas premium. Soal cara mengumpulkan dan menukarnya, saya simpan untuk tulisan berikutnya.

Adjie tersenyum di kursinya di kabin First Class Singapore Airlines, dengan semur daging, croissant dan segelas anggur merah di meja
Keuntungan sampingan doyan ngutang: First Class Singapore Airlines dari Jakarta ke Beijing.

Supaya adil, ada satu peringatan yang perlu diingat: semua keuntungan ini hanya berlaku kalau tagihanmu tidak pernah tersisa, karena begitu ada saldo yang terbawa ke bulan berikutnya, kartu kredit berubah menjadi utang berbunga sekitar 21% setahun.

Jadi, utang itu baik atau buruk?

Mari kembali ke tiga orang yang kita bayangkan: si peminjam pinjol, si penabung dengan celengan ayam, dan bapak berbatik dengan kartu kreditnya. Perbedaan di antara mereka ternyata bukan soal siapa yang berutang dan siapa yang tidak, melainkan soal biaya utangnya dibandingkan dengan imbal hasil uang mereka sendiri. Orang pertama berutang dengan bunga yang jauh di atas imbal hasil investasi aman mana pun, sementara orang ketiga berutang dengan bunga 0%, atau setidaknya di bawah imbal hasil tabungannya, sehingga uang tunainya bisa tetap bekerja. Orang kedua aman, tetapi uang di celengan ayamnya tidak menghasilkan apa-apa.

Kalimat “semua utang itu baik” memang sengaja saya lebih-lebihkan. Saya tetap mengakui bahwa utang yang biayanya lebih tinggi daripada imbal hasil uang tunaimu, seperti pinjol, paylater yang mahal atau tagihan kartu kredit yang tidak dilunasi, adalah utang yang buruk. Label produktif atau konsumtif hanya menentukan perasaan kita terhadap sebuah utang, tetapi bunganyalah yang pada akhirnya menentukan apakah utang itu membuatmu lebih kaya atau lebih miskin.

Sebelum meneken cicilan berikutnya, bandingkan dulu bunga efektifnya dengan imbal hasil yang bisa didapat uang tunaimu secara aman, atau masukkan tawarannya ke tool Finance vs Cash.

Tulisan ini bukan nasihat keuangan. Asumsi bunga deposito 5% setahun adalah angka yang umum pada akhir 2026, bukan tawaran bank tertentu.

Referensi

Semua hasil skenario (cicilan HP dan laptop) dihitung dengan tool Finance vs Cash pada Oktober 2026.

  1. Bisnis.com, 5 daftar pinjol legal OJK bunga rendah 2026, pencairan mudah dan aman, 23 September 2026: menurut SEOJK 19/SEOJK.06/2025, batas bunga pinjol konsumtif turun bertahap mengikuti tenor, dengan angka yang disebut berbagai sumber antara 0,1% dan 0,3% per hari, dan sampai 0,3% per hari untuk tenor pendek. ↩

  2. Kontan, BI akan atur batas atas bunga kartu kredit: batas bunga kartu kredit 1,75% per bulan berlaku mulai 1 Juli 2021. ↩

Adjie Brotosukmono


Adjie Brotosukmono adalah konsultan ekonomi senior dan insinyur sistem tenaga listrik asal Indonesia di Mott MacDonald, Perth, Australia. Ia membuat kalkulator gratis di Adjie Brotools dan menulis di sini tentang keputusan di balik kalkulator-kalkulator itu.